Bandung,RN,.Perubahan besar terjadi dalam tradisi Kirab Mahkota Binokasih tahun ini. Jika sebelumnya diarak menggunakan kendaraan biasa, kini prosesi sakral itu tampil megah dengan balutan budaya leluhur yang membuat publik terpukau.
Prosesi dimulai dari Museum Geusan Ulun, tempat Mahkota Binokasih diserahkan secara khidmat ke dalam kereta kencana. Ribuan warga menyaksikan langsung momen sakral tersebut yang sarat nilai sejarah dan simbol kejayaan Padjadjaran.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa perubahan ini bukan sekadar seremoni, tetapi bagian dari upaya mengembalikan jati diri budaya Sunda. Ia ingin tradisi ini hidup dan menjadi kebanggaan masyarakat.
Menurutnya, kirab ini tidak hanya berhenti di Sumedang. Mahkota Binokasih akan dibawa berkeliling ke berbagai daerah di Jawa Barat, bahkan menyentuh wilayah budaya Sunda di luar provinsi, sebelum mencapai puncaknya di Kota Bandung.
Rangkaian perjalanan ini akan melewati Kawali, Kampung Naga, hingga Bogor dan Cirebon. Puncaknya akan digelar dalam perhelatan besar Milangkala Tatar Sunda yang diprediksi menjadi magnet budaya terbesar tahun ini.
Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, menyebut kegiatan ini sebagai tonggak penting dalam menghidupkan kembali sejarah dan identitas daerah. Ia juga mengapresiasi perhatian pemerintah provinsi terhadap pelestarian budaya lokal.
Tak hanya budaya, dampak ekonomi juga langsung terasa. Hotel penuh, restoran ramai, dan UMKM bergeliat. Kirab ini membuktikan bahwa budaya bukan sekadar warisan, tetapi juga kekuatan ekonomi yang nyata bagi masyarakat.(red)
